RAMADHAN TETAPLAH RAMADHAN, WALAU...


Sudah 4 bulan lamanya dunia dihadapkan oleh wabah yang menyebar dengan sangat cepat. Per artiker ini ditulis WHO mengumumkan bahwa 210 negara sudah terkonfirmasi terkena wabah. Beberapa minggu lalu media sosial juga dipenuhi oleh banyak doa dan harapan seluruh umat muslim di seluruh penjuru dunia, doa yang dipanjatkan cuma satu, yaitu "semoga wabah ini segera berakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan".  Tapi lihatlah kenyataannya saat ini, ternyata ada yang ingin Allah perlihatkan kepada kita tentang doa yang masih "ditunda" oleh Allah untuk dikabulkan.

Seluruh pemimpin negara berpacu untuk menemukan solusi yang tepat dan cepat. Solusi yang seolah berpacu dengan kecepatan penyebaran virus. Negara Malaysia tempat dimana saya tinggal juga sudah menetapkan lockdown sebagai solusi dari penyebaran wabah. Terhitung 2 bulan lockdown ditetapkan sejak tanggal bulan maret lalu hingga tanggal 18 mei mendatang. Kabar baiknya alhamdulillah penambahan kasus positif semakin menurun hingga hari ini. Tapi tetap ada yang mengganjal di hati. Yaitu perihal mudik. Grup whatsapp PPI setiap hari membahas tentang perihal mudik ke tanah air di masa pandemi seperti ini. Data pelajar Indonesia yang memutuskan untuk tetap  di Malaysia dan yang memilih pulang ke tanah air juga selalu diupdate guna diserahkan ke KBRI. Banyak yang memilih pulang ke tanah air dengan salah satu alasan "bagaimanapun amannya di negara orang tetap  lebih aman negara sendiri". Itulah yang menjadi kegalauan  kami di minggu-minggu terakhir ini.


Siapa sih yang tidak mau ber-Ramadhan di tanah air? Seperti apapun media berita melaporkan bahwa angka positif virus covid-19 terus meningkat di Indonesia, hati pasti selalu memilih untuk pulang. Tapi tidak dengan akal, mudik di tengah masa pandemi dengan membawa balita tentu seperti keputusan yang penuh dengan keegoisan hati. Terlebih pemerintah sudah menyarankan untuk tidak mudik dan bersabar duduk di dalam rumah. Dan itulah yang akhirnya kami pilih. Tetap berada di Malaysia sambil terus berdoa semoga mata uang rupiah semakin menguat sehingga kami bisa memenuhi segala kebutuhan pokok selama masa pandemi di negeri jiran ini.

Ramadhan tetaplah ramadhan, walau bagaimanapun keadaan yang menyertainya...

Itulah yang ingin saya sharing disini. Walau tidak di negeri sendiri, walau terkurung di dalam rumah, walau tidak bisa berburu takjil di pasar Ramadhan, walau tidak bisa menikmati kehangatan shalat terawih berjamaah di mesjid, tapi...

Ramadhan tetaplah Ramadhan
Tidak akan berkurang kemuliaannya walau tidak diisi dengan kebiasaaan-kebiasaan kita di Ramadhan sebelumnya. Walau tidak dimeriahi dengan rombongan pembangun sahur, walau jalanan tidak dipenuhi oleh para ngabuburit menunggu berbuka, walau mesjid kosong tak ada yang bisa beritikaf, tapi....

Ramadhan tetaplah Ramadhan

Tetap menjadi bulan dimana kita berlomba-lomba menjemput ribuan pahala, menjadi tempat kita bersimpuh lebih lama demi sebuah ampunan. Menjadi kesempatan bagi kita untuk mereset ibadah lebih sempurna.

Sebenarnya esensi Ramadhan bukanlah terletak pada keadaan-keadaan yang menyertainya. Bukan tentang berkumpul ramai dengan keluarga, bukan tentang ngabuburit memburu takjil, dan bukan tentang dimana tempat kita berada. 

Akan tetapi esensinya terletak pada bagaimana kita mengisinya dengan kegiatan yang berbeda di banding bulan lainnya. Esensinya terletak pada peningkatan kualitas ibadah yang kita usahakan selama bulan suci ini. Esensinya terletak pada seberapa berserahnya hati kita pada ampunan yang Allah beri. Esensinya terletak pada seberapa banyak amal yaumiyah yang kita tambah kuantitasnya demi menyambut bulan Ramadhan. Itulah Esensi Ramadhan yang tidak akan pernah terkurangi walau kondisi kita saat ini sedang dilanda pandemi.

Untuk menjaga esensitas Ramadhan ini banyak sekali cara yang bisa kita lakukan di rumah. Salah satunya dengan mengisi masa-masa selama lockdown sebelum Ramadahan sebagai ajang untuk warming up amalan-amalan yang akan dirutinkan nanti. Juga dengan berbagai kegiatan yang pernah saya sharing di artikel sebelumnya tentang Get Ready For Ramadhan. Alhamdulillah karena sebelum Ramadhan saya dan suami sudah banyak menyelesaikan target ibadah harian sebagai warming up maka sekarang semua target ibadah selama bulan suci ini terasa lebih ringan karena sudah terbiasa.


Selain esensi bulan Ramadhan yang tidak akan hilang selama kita menjaga kualitas ibadah walau di tengah pandemi, sebenarnya ada lho hikmah yang ingin Allah perlihatkan kepada kita tentang Ramadhan kali ini. Beberapa hikmah yang saya tangkap di antaranya :

1. Mengembalikan fitrah suami sebagai imam bagi keluarga. Jika selama ini suami waktunya habis untuk amanah di luar rumah, sehingga jarang untuk menjadi imam shalat di rumah. Maka inilah waktunya suami untuk kembali ke posisi seperti semula sebagai imam di rumah. Dengan hikmah lainnya, itu berarti suami mau tidak mau harus kembali murojaah hafalan Al-Quran yang mungkin selama ini belum sempat ditambah atau diulang.

2. Membangun bonding antar keluarga. Jika selama Ramadhan lalu waktu kita habis untuk menghadiri banyak sekali acara bukber. Mulai dari reuni TK hingga bukber emak-emak komplek. Maka inilah saatnya keluarga kembali membangun ikatan dengan 30 hari selalu berbuka puasa di rumah. Menyiapkan menu berbuka bersama, membagi tugas merapikan meja makan dan kembali menghangatkan jam makan dengan berbagai cerita yang selama ini tak sempat dibagikan.

3. Momen yang pas untuk menyusun target ibadah bersama. Ini juga yang saya selalu lakukan bersama suami di Ramadhan sebelumnya. Terlebih di masa pandemi yang mengharuskan kami harus selalu bersama. Menyusun target tilawah, murojaah hafalan, zikir challenge, dan ibadah lainnya. Karena momen Ramadhan inilah waktu yang tepat untuk kembali bersama-bersama fastabiqul khairat dengan keluarga kecil kita. Terlebih Ramadhan kali ini kita memang harus selalu di rumah, maka proses pencapian target dan evaluasi-evaluasinya sangat mudah untuk dieksekusi.

4. Karena kali ini Ramadhan hanya ingin kita menjalaninya dengan lebih intens bersama keluarga inti di rumah. Kesempatan emas bagi para suami merangkul anak istrinya untuk menghidupkan kembali rumah dengan aktifitas ibadah selama ramadhan. Kesempatan baik juga untuk para istri memanfaatkan moment ini guna berbagi waktu beribadah dan menjaga anak d rumah bersama suami.


Semoga Ramadhan di tengah pandemi  kali ini benar-benar membuat hati sombong kita lebih membumi, dan membuat doa kita jauh menembus langit. 

Dan satu hal pasti suksesnya Ramadhan tidak hanya dilihat dari aktifitas kita selama Ramadhan saja, akan tetapi bukti suskes nya Ramadhan terletak pada perubahan aktifitas kita setelahnya. 

Apakah semua ibadah yang kita rutinkan selama Ramadhan akan bertahan selama 11 bulan mendatang, atau justru langsung berhenti saat Ramadhan ini berakhir.

Ramadhan tetaplah Ramadhan..

Walau kali ini pandemi menyertainya...

48 Komentar

  1. Nice Mba..
    Benar, bagaimanapun kondisi saat ini. Ramadhan tetaplah bulan paling mulia dn kita masih mendapat kesempatan utk memperbaiki diri & amalan. Semoga badai ini segera berlalu. Aamiin...

    BalasHapus
  2. Smoga Ramadhan dapat menjadi cahaya dan disini Allah mengirimkan banyak Barakahnya.. aamiin..

    BalasHapus
  3. InsyaAllah pandemi ini berlalu. Kita kuatkan doa sama2 mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih mba, alhamdulillah disini juga sudah melandai kurva nya..

      Hapus
  4. Yang paling kerasa mmg quality time bersama keluarga, jd lebih intens 😍

    BalasHapus
  5. MasyaaAllah...nice sharing mba
    Semoga ramadhan kali ini membawa perubahan yang lebih baik dari sebelumnya...aamiin

    BalasHapus
  6. Semangat bunda

    BalasHapus
  7. Maa Syaa Allah, bener mbaa.. Ramadhan tetap Ramadhan, bulan penuh berkah.. Semangat menjalani Ramadhan tahun ini mba..
    btw, Mba yang di kelas BD Lev2.6 bukan ya? yang dari Malaysia?

    BalasHapus
  8. Masyaallah wow banget liat target-targetnya kia 😊 semoga bisa aku contoh 😁 dengan hikmah ini semoga kita semua menjadi orang yang lebih baik lagi.aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiiin y rabb amiiiinnπŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°

      Hapus
  9. Bagus sekali Mba remindernya.. Poin paling menarik bagi saya adalah mengembalikan suami, bapaknya anak-anak, ke fitrahnya sebagai imam keluarga.. Ini positif sekali memang :)

    BalasHapus
  10. "bukti suksesnya Ramadhan terletak pada perubahan aktifitas kita setelahnya" ngena banget ,jazaakillahu khairan mom

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semog bertahan ya mom amalan yaumiyahnya sampai ramadhan tahun depan..amiin

      Hapus
  11. MasyaAllah semoga Allah selalu menjaga kita dimana pun kita berada sehat selalu utk mb dan keluarga di Malaysia❤️

    BalasHapus
  12. iya mbak, ramadah tetaplah ramadan yaa, dengan atau tanpa pandemi ini. dan semoga amalan2 baik yang semangat dikerjain bulan ramadan ini bakal istiqomah dikerjain bulan2 lainnya juga :')

    BalasHapus
  13. Baca tulisan PPI itu bikin aku inget kalo pengen jadi bagian dari PPI bareng suami. Makasih sharenya Mba. Udah diingetin juga tentang 11 bulan ke depan 😊

    BalasHapus
  14. pastinya akan banyak hikmah dari ujian yg diberikan Allah, apalagi di bulan yg penuh mulia, smoga setelah ramdhan Allah memberikan hadiah teristimewa bagi manusia yg selalu berdoa kepadanya

    BalasHapus
  15. Benar mba, kita memang sedang diuji untuk memaknai ramadhan terlepas ada/tidaknya berbagai perayaan. Terima kasih sharingnya, semoga diberi kesabaran di perantauan ya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih doanya mba..mba juga semoga sehat selaluu..

      Hapus
  16. Semoga kita semua menjadi alumni Ramadhan yang sukses ❤️

    BalasHapus
  17. Masya Allah, semangat mba walaupun di perantauan tapi masih bisa menjalani ramadhan dan berkumpul dengan keluarga kecil πŸ˜†πŸ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillh nikmat luar biasa masih bisa berkumpul y mbaπŸ₯°

      Hapus
  18. Stay safe disana pilihan terbaik mba, kami pun yg di indo ga bsa mudik kumpul keluarga, tpi harus ikhlas demi kebaikan bersama...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbaa memnag harus banyak bersabar ya kita selama pandemi ini :"

      Hapus
  19. Gak tw mw bilang apa lagi Fi, tulisan ini Komplit bangeeet untuk tools muahasabah diri 😍. Magic parah sih bagi Aku personally yang gak pernah nanya begini ke diri sendiri "Sesiap apa jadi istri & ibu?" (but, abis baca ini aku jadi nanya ke diri sendiri) 😭

    BalasHapus
  20. MaasyaaAllah, terima kasih kak Wafi .. menginspirasi tulisannya, sukses terus kak.. ditunggu sharing2 berikutnya, semangaat.. #emonkia

    BalasHapus
  21. MaasyaaAllah....
    Semangat mbak...
    Semoga pandemi ini segera berakhir & kita jadi hamba yg lebih banyak bersyukur akan hikmah dari ujian ini πŸ˜‡

    BalasHapus
  22. wah ide baru buat wall of ramadhan

    BalasHapus
  23. Semangat mba. Semoga kita bisa memaksimalkan Ramadan ini dengan baik

    BalasHapus
  24. Masya Allah Tabarakallah. Persiapannya luar biasa. Btw, benar. Ramadhan tetaplah ramadhan. Meski di tengah wabah, kita tak boleh lengah. Semangat ya! Bismillah bisa

    BalasHapus