AKU BANGGA DAN BAHAGIA MENJADI IBU RUMAH TANGGA

 

    Jika flashback saat masa awal pernikahan dan resmi memegang status sebagai seorang Istri, tak ada rasa lain yang kurasakan saat itu selain “bingung”. Karena sama sekali bukan dukungan yang kudapatkan dari lingkungan sekitarku. Melainkan berbagai pertanyaan dan respon yang sangat menggoyahkan hatiku saat itu.

Yakin nikah, Ki? Sayang ijazah lu!

Percuma lu kemarin lulus summa cumlaude, Ki! Kalau akhirnya lu di rumah doang!

Lah ngapain lu kemarin jadi lulusan pertama di Angkatan kalau akhirnya di rumah doang. Malu, Ki!

Yaelah Ki. Nggak mau berkarir dulu? Banyak tau perusahaan yang butuh karyawan yang totalitas kayak lu!

Gw nggak yakin lu betah di rumah, Ki. Dulu aja lu aktifnya kebangetan, hobbi rapat sampai masuk banyak organisasi!

Sayang orang kayak lu di rumah aja, Ki! Mubazir!

    Masih banyak lagi pertanyaan senada yang dilontarkan oleh teman-teman seperjuangan saat aku memilih untuk menikah. Sempat merasa insecure dan kerdil karena memilih di rumah bersama daster. Bayangan blazer dan duduk di kursi empuk dalam ruangan ber-AC tentu menghantui. Terlebih 3 bulan setelah menikah aku dinyatakan positif hamil. Padahal rasanya masih banyak mimpi yang harus dikejar. Kuliah di luar negeri? LPDP? Berkarir?. Apakah saat itu aku sempat down? Lebih tepatnya ada pertanyaan besar yang langsung berputar di otakku saat itu.

Apa benar Amanah sebagai seorang Istri di rumah ini semenyedihkan itu?

Bukankah peran ini langsung Allah yang sematkan pada fitrah setiap wanita?

Apa mungkin ada kemudaratan pada mandat yang Allah berikan pada hamba-Nya?

    Itulah kondisi yang kualami saat awal menikah. Ada banyak sekali kata penyesalan yang mampir di telinga. Aku yang berkepribadian tegas, perfeksionis dan teguh pendirian saja sempat goyah, walaupun keluarga sangat mendukung penuh. Tapi tetap saja karena hidup di rantau sejak awal menikah, jadi lingkunganku memang bukan lingkungan keluarga, akan tetapi lingkungan dengan teman-teman seperjuangan. Tak terbayangkan bagaimana para Istri dan Ibu di luar sana yang tidak mendapatkan dukungan sama sekali dengan keputusan untuk di rumah saja setelah menikah.

    Ketika fikiranku masih penuh dengan pertanyaan seputar nasib seorang Istri yang memilih untuk di rumah, qadarullah Allah menjawab do’aku dengan mempertemukanku pada Ibu Profesional. Pertemuan itu sekaligus menjadi titik balik hidupku sebagai seorang Ibu, Istri dan Individu.

    Masih sangat lekat di ingatan pada tahun 2019 masuk di matrikulasi 7. Mulai belajar lagi tentang berbagai peran kehidupan, tentang prioritas hidup juga tentang manajeman waktu. Dari banyaknya materi belajar yang kupelajari dan praktikkan, satu benang merah yang kuyakini selama belajar hingga wisuda matrikulasi Ibu Profesional tersebut. Bahwa, menjadi Istri dan Ibu itu adalah peran yang sangat luar biasa. Apapun keputusan yang kita ambil baik di rumah maupun di kantor, kuncinya hanya satu, jalankan peran itu semaksimal mungkin dan dengan rasa bahagia. Bahkan beberapa materi tahun 2019 tersebut masih terus aku praktikkan hingga saat ini (berarti selama 3 tahun terakhir) yaitu tentang kendang waktu dan skala prioritas.

    Selama tiga tahun itu tentu sangat banyak yang aku lewati. Tapi satu hal pasti, aku saat ini sudah bisa lantang mengatakan bahwa AKU IBU RUMAH TANGGA dan AKU BANGGA DENGAN PERANKU SAAT INI!!!!. Aku sama sekali tidak pernah membalas semua pertanyaan-pertanyaan mematikan yang dulu dilontarkan padaku saat awal menikah. Tapi aku MEMBUKTIKAN dengan diriku sendiri bahwa MENJADI IBU RUMAH TANGGA tidak akan MEMBUNUH PRIBADIMU. TIDAK AKAN MEMATIKAN SINARMU. TIDAK AKAN MENGHILANGKAN JATI DIRIMU SEBAGAI INDIVIDU.

    Qadarullah, justru teman-teman yang saat itu menyalahkan keputusanku untuk memilih di rumah, malah jadi sering mendekat dan banyak bertanya tentang bagaimana aku menjalani peran hingga bisa seperti saat ini.

Sumpah Ki, kok lu bisa makin bersinar setelah jadi Ibu Rumah Tangga?

Gila lu ya, lu pakai daster doang tapi bisa lebih produktif dari gw!!!

Lu kok bisa bahagia sih, Ki?? Gw lihat emak-emak itu identik dengan stress lho!

    Aku hanya tersenyum. Lihatlah, bahwa Allah tidak akan memberikan peran dan amanah yang menzolimi hamba-Nya. Kuncinya dariku adalah : Maksimalkan peran! Jangan berhenti belajar! Bahagia menjalani Amanah! Dan rubah segala tantangan menjadi ladang ikhtiyar menjemput berkah dan pahala!

    Saat ini, dengan berpakaian dinas daster ini aku bukan hanya bisa bermanfaat untuk keluarga kecilku. Tapi lebih dari itu, bahkan aku bisa memberikan dampak untuk orang banyak dengan peran Ibu Rumah Tangga ini. Tak sampai di situ, aku juga bisa memberikan kiprah dari rumah untuk dunia!!! Dengan apa? Dengan memaksimalkan keistimewaan bakat yang sudah Allah berikan. Lho kok bisa? Bukannya setelah menjadi Istri dan Ibu kita tidak bisa memperhatikan diri sendiri lagi? Eh kata siapa? Aku sudah membuktikan sendiri, bahwa dengan terus belajar, justru aku makin bersinar dengan peran Ibu Rumah Tangga ini. Dan aku memilih salah satu cara dalam membumikan keberkahan dan kebermanfaatan dari dalam rumah, yaitu dengan ribuan kata yang sudah kurangkai dalam puluhan bukuku yang sudah terbit.

    Saat ini dengan bangga aku katakan bahwa AKU ADALAH IBU RUMAH TANGGA. Ingin merasakan bahagia menjalani peran seperti yang kurasakan? Silahkan ikut Konferensi Ibu Pembaharu! Jangan kaget jika setelahnya justru kamu akan menemukan sinarmu akan lebih terang dan bercahaya.

#darirumahuntukdunia

#sayembaracatatanperempuanKIP2021

#konferensiibupembaharu2021

#ibuprofesional

0 Komentar