MENULIS PULUHAN BUKU DAN ILUSTRASI SELAMA PANDEMI

     

    Ada banyak sekali cerita di masa pandemi ini. Untuk saya pribadi, setidaknya di pandemi inilah saya mulai berperan sebagai seorang Penulis dan Ilustrator. Menjalani masa pandemi di Malaysia, itu berarti berbicara tentang bagaimana menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya di dalam rumah. Karena kebijakan Malaysia yang memberlakukan lockdown sejak awal pandemi hingga saat ini.

    Alhamdulillah terhitung sudah lebih dari 84 buku yang saya tulis di masa pandemi (baik solo maupun antologi). Buku-buku saya dapat dilihat di Instagram @bukuwafiazkia. Akun portofolio buku ini baru saya bikin sejak dua bulan lalu. Sesuai arahan dari suami, karena buku yang saya tulis sudah banyak. Dan terkadang saya lupa sudah mengirimkan naskah apa saja ke penerbit. Itulah alasan mengapa saya akhirnya membuat akun portofolio karya buku yang sudah saya tulis dan naik cetak (walau sudah sangat telat untuk mendata puluhan buku yang sudah ditulis sejak awal pandemi). Semua buku yang ada di akun portofolio itu belum keseluruhan, karena masih ada belasan buku lagi yang terbit tahun lalu, tapi belum saya upload. Karena masih mencari data buku dan spesifikasi juga fotonya.

    Jika dihitung, saya menulis buku pada tahun 2019 sebanyak 3 buku. Sepanjang tahun 2020 menulis sekitar 44 buku. Sedangkan sejak Januari 2021 hingga saat ini saya sudah mengirimkan lebih dari 40 naskah buku ke penerbit. Bismillah semoga bisa mencapai 100 buku sebelum awal tahun depan (mari aminkan bersama), aamiiiiin.

    Menulis pada masa pandemi di luar negeri ada tantangannya tersendiri. Salah satunya adalah bagaimana tricky nya menjalin komunikasi dengan penerbit. Masih teringat dengan proses naik cetak buku solo pertama saya tahun lalu (April 2020), yang lumayan terjadi misskomunikasi dengan pihak penerbit. Tapi alhamdulillah Allah mudahkan dan qadarullah dalam masa yang singkat buku tersebut habis terjual.

    Tantangan lainnya adalah tinggal di luar negeri, sedangkan penerbit ada di Indonesia, jadi kita tidak bisa langsung memeluk buku yang sudah kita tulis. Sebenarnya sangat bisa untuk mengirimkannya langsung ke sini. Akan tetapi, karena saya menulis buku lumayan banyak, jadi dalam satu bulan ada beberapa buku yang naik cetak dalam waktu yang sama. Bahkan, bulan Maret 2021 tercatat ada 12 buku saya yang terbit. Setiap buku berasal dari penerbit yang berbeda-beda, maka otomatis tidak bisa sekali kirim ke Malaysia. Itu mengapa akan mengeluarkan banyak sekali biaya jika setiap buku yang saya tulis langsung dikirimkan ke sini.

    Dari 84 buku yang sudah saya tulis, yang dikirim ke Malaysia hanya 3-4 judul buku saja. Itu merupakan salah satu tantangan bagi saya sebagai seorang penulis. Keadaan dimana menulis buku tapi tidak bisa langsung memeluk buku-bukunya. Rindu, tentu saja. Bahkan tak jarang saya hanya bisa melihat dari video yang dikirimkan oleh para pembaca.

     Selain itu, ada satu ujian yang saya hadapi selama menjadi penulis di masa pandemi, yaitu alat. Qadarullah, tepat ketika Malaysia mulai lockdown, laptop saya dan suami tiba-tiba rusak. Mau diperbaiki tidak bisa keluar rumah. Terlebih awal lockdown sangat ketat di sini. Tak jarang police dan askar razia ke depan rumah. Mau beli yang baru juga tidak ada toko yang buka selain toko bahan pokok. Saya yang saat itu masih melangkah dalam menulis mulai ragu untuk melanjutkan naskah.

    Apa yang bisa dilakukan tanpa laptop? Tapi, dengan izin Allah alhamdulillah saat itu saya bisa menulis buku dengan menggunakan handphone kecil. Yaitu menggunakan aplikasi WPS. Terdengar mustahil dan rempong? Tapi dengan hanphone itulah akhirnya lahir 44 buku pada tahun lalu. Karena, saya baru bisa membeli laptop pada januari 2021.

   Masyaallah, jika diingat kembali perjuangan menulis pada tahun lalu, saya hanya bisa tersenyum haru. Bahkan buku solo pertama saya yang berisi ratusan halaman juga lahir dari handphone kecil itu. Dari sana saya dapat mengambil hikmah, bahwa apapun tantangan yang kita hadapi, semuanya kembali ke diri kita sendiri. Saya bisa saja memilih menyerah dan berhenti.

   Apa sih yang bisa dilakukan ketika lockdown? Ide apa sih yang bisa keluar jika kita dikurung di dalam rumah? Mana bisa menulis kalau tidak ada laptop? Bismillah atas ridho Allah dan suami, justru dengan seabrek tantangan itulah puluhan buku pertama saya lahir di masa pandemi, dan terus mengalir puluhan buku lainnya hingga saat ini.

     Tak hanya menjadi Penulis. Pandemi juga membawa saya untuk masuk ke dunia Ilustrator. Berawal dari kebutuhan sebagai seorang penulis, yaitu membutuhkan jasa ilustrasi untuk buku. Saya akhirnya yang terjun sendiri menjadi Illustrator buku. Karena, saya memang suka menggambar sejak kecil, jadi seperti menggali kembali hobi yang sudah lama sirna. Saya mulai masuk menjadi Ilustrator sejak Agustus 2020, alhamdulillah hingga saat ini justru saya mendapatkan banyak sekali kesempatan di bidang ilustrasi digital tersebut.

    Saya mulai membuat beberapa produk dengan ilustrasi, bekerja sama dengan para Illustrator lain. Bahkan saya juga ikut menyediakan desain di salah satu platform microstock, yaitu pngtree. Portofolio ilustrasi saya dapat dilihat di Instagram @wafiazkia_illustrator. Berbagai desain microstock saya dapat didownoad di laman pngtree @wafiazkia_design. Alhamdulillah, dari akun Instagram itu juga beberapa kali tawaran menjadi illustrator buku dari berbagai negara datang. Terakhir, tawaran mengilustrasikan buku dari Jerman dan Belanda.

    Karena sudah menulis puluhan buku dan ilustrasi, akhirnya saya memberanikan diri untuk membuka kelas online. Silahkan mampir ke Instagram @Azkia_Class. Untuk saat ini saya membuka dua kelas. Yaitu kelas menulis dan kelas ilustrasi. Karena, untuk Picture Book solo terakhir, saya yang mengeksekusi semuanya hingga akhir, jadi banyak yang minta untuk diajarkan menulis serta menggambar.

    Buku Picture Book yang berjudul “Agar Aku Disayang Allah” memang adalah buku yang benar-benar saya rangkai sendiri. Mulai dari mencari ide, membuat tabel teks dan ilustrasi, mengilustrasikannya satu persatu, membuat font sendiri, bahkan layout dan mockup juga saya handle sendiri. Karena saya memang mau masuk dengan totalitas ke dunia perbukuan ini.

    Akhirnya banyak para illustrator yang minta diajarkan menulis buku. Dan banyak dari para penulis yang minta diajarkan membuat ilustrasi. Dari berbagai permintaan itulah akhirnya saya membuka kelas online @Azkia_Class. Kelas itu merupakan wadah bagi siapapun yang ingin menjadi penulis dan siapapun yang ingin masuk ke dunia ilustrator.

    Selain itu, di masa pandemi saya juga masih menerima setoran hafalan dari Ibu-Ibu di berbagai negara. Karena ada Amanah sepanjang hidup sebagai Hafizoh yang saya emban, jadi saya merasa dengan tetap menerima setoran hafalan dari orang lain, ilmu Al-Quran yang saya punya bisa terus bermanfaat. Dan masa pandemi yang saya jalani bisa lebih berkah karena mau tidak mau saya memang akan terus murojaah hafalan selama hidup di dunia.

    Sampai di sini, tentu sudah sangat terasa bagaimana efek pandemi bagi titik balik produktifitas hidup yang saya jalani. Saya berharap, produktifitas saya ini bisa bermanfaat untuk banyak orang. Saya berharap dari ribuan kata yang sudah saya tulis, salah satu di antaranya dapat menjadi pintu hidayah bagi para pembaca. Dapat menjadi alasan kuat seseorang untuk terus berbuat kebaikan.

 Yang mau menjadi penulis ataupun illustrator, yuk belajar bareng!

    Untuk pandemi yang mengantarkan saya menjadi seorang Penulis dan Ilustrator, semoga bumi segera pulih dan kita bisa kembali menjalani hidup normal dengan lebih produktif dan berdampak bagi orang lain. Amiiiiiin.

12 Komentar

  1. Masya Allah tabarakallah ❤️ nanti aku wa ya beb, kamu keren banget bisa nulis puluhan buku selama pandemi huhu akunjuga pengen bikin buku solo dan ilustrasi sendiri, salam kenal yaa seneng bacanya

    BalasHapus
  2. Luar biasa Mbak, menjadi motifasi tersendiri bagi saya agar bisa terus produktif tuk nulis hehe

    Nulis-ku masih Senin Kamis, gimana ya caranya agar bisa konsinten, nggak kebayang dalam beberapa bulan berhasil nulis puluhan buku hehe

    BalasHapus
  3. Masha Allah mba bisa produktif bahkan di kala Lockdown. kalau saya mungkin sudah senewen. Untungnya di Indonesia ga ada lockdown. Memang harus membuat kreativitas ya mbak di saat lockdown salah satunya menulis.

    BalasHapus
  4. Masyaallah...amazing, Mbak...banyak sekali karya yang dihasilkan selama masa pandemi, yaa. Di Indonesia, walau nggak lockdown, saya juga nggak berani ke mana-mana, Mbak...Jadi di rumah aja dan hasilnya bisa gambar selama pandemi. Seneng yaa bisa gambar sama nulis sekaligus. Mbak keren bingits, masyaallah. Salut!

    BalasHapus
  5. Masyaalloh... Paket komplit nih... Bisa nulis dan bisa juga bikin ilustrasi untuk buku sendiri. Mantaps... Kesempatan untuk banyak mengolah ide ya mbak di masa pandemi ini.

    BalasHapus
  6. Keren, Mbak. Aku aja satu buku solo belum launching-launching. Banyakin ngomong doang tapi kalau mau action banyak alasan. Kudu belajar darimu nih, Mbak.

    BalasHapus
  7. MasyaAllah, keren sekali Mbak, benar-benar produktif ya meski di masa pandemi ini, bahkan menuliskan 44 buku melalui HP, luar biasaaaa.

    BalasHapus
  8. masayalllah pandemi membawa berkah, malah jadi produktif banget, ya mba.. Keren!
    Semoga menjadi motivasi buatku, karena yang terjadi padaku malah sebaliknya...

    BalasHapus
  9. Masya Allah mba, pandemi tuh nggak jadi penghalang untuk produktif ya mba. Keren ih :)

    BalasHapus
  10. Masya Allah.. Keren bangettt bisa ngelahirin puluhan buku saat pandemi, aku mah salut bangett mba

    BalasHapus
  11. Masya Allah Mba wafi, luar biasa nih ide dan kegigihannya..
    Mau donk ikut kelasnya

    BalasHapus
  12. MasyaAllah, lagi merasa maju mundur soal menulis baca ini jadi semangat kembali untuk mengukir kata.. jadi penasaran sama kelasnya

    BalasHapus