KITALAH IBU TERBAIK ITU


Ada satu ungkapan sedih yang masuk ke DM Instagram beberapa waktu lalu.

“Gw ngerasa gak becus jadi ortu qi, gw ngerasa bego banget,,”

“Kenapa?”

“Lu taukan ritme gw setelah jadi Ibu, boro-boro mau berkegiatan lain ini itu qi. Gw gk uring-uringan di rumah karena capek aja dah bersyukur banget,,”

“Kan masih adaptasi, jadi wajarlah masih menyesuaikan ritme. Lu mau nyari ilmu dan beli buku-buku rumah tangga aja itu dah bagus banget lho. Karena itu berarti lu mau belajar.”

“Masalahnya qi, setiap gw liat Ibu lain yang bisa aktif sana sini. Bisa ikutan komunitaslah, bisa berhobilah, dapet suami yang setipelah, gw jdi ngerasa jauh banget di bawah. Gw jadi sering mikir kenapa ya idup gw gini banget setelah nikah. Gw liat tu si A sumpah kreatif banget bikin MPASI anaknya, gw aja masak telur gk hancur baru bisa setelah nikah. Terus liat si B kreatif banget bikin mainan sama anaknya di rumah, apalagi tu sekarang montessori ya?, kok bisa sih kefikiran bikin mainan diribet-ribetin begituan. Apalagi tu si C Suaminya enak banget kayaknya minta kerja sama, kemarin ya gw lewat depan rumahnya, liat suaminya sedang jemurin baju pas weekend. Gila suami gw aja ogah nyentuh baju kotor. Kenapa ya qi, apa gw memang gak becus jadi Ibu? Ibu yang baik itu gimana sih qi?. Gw belajar kok, dari postingan lu, buku lu, tapi kayaknya gw jalan di tempat qi, gak ada yang berubah. Gw merasa gagal jadi Ibu,,,”
----------

Mungkin kita pernah berfikir seperti kegaluan Ibu di atas. Atau yang paling sederhana mungkin seperti,

“Kenapa Ibu lain bisa ini itu sedangkan saya tidak?”

Ah saya juga pernah berfikir bahwa kasian ya anak saya lahir bukan dari orang tua yang bergelimpahan harta. Bahkan sampai sekarang kami juga masih menata ekonomi rumah tangga, naik turun? Pasti. Ketika melihat anak lain diberi fasilitas full sama orang tuanya, saya pernah merasa bersalah sama anak saya karena tidak bisa memberikan hal serupa. Tapi perasaan ini langsung dijawab oleh Allah tahun lalu. Yap jawabannya masih bersumber dari salah satu diskusi dengan seorang Ibu muda, tapi dari sanalahnya saya tersadar bahwa Ibu terbaik itu adalah kita sendiri.

Allah tidak akan pernah salah memberikan title Ibu pada diri kita. Terlepas masih amburadulnya kita dalam menata hidup. Terlepas dari banyaknya kurang kita dalam mengenal diri.

Allah selalu tau “Ibu seperti apa” yang sebenarnya anak kita butuhkan. Dan seperti itulah ritme kepribadian Ibu dalam diri kita yang akan terbentuk. Itu mengapa setiap Ibu akan berbeda, karena kebutuhan anaknya juga berbeda.

Tak jauh-jauh saya mengambil contoh. Contohnya saya, saya lahir dari Ibu yang penuh ketegasan dan keluarga yang selalu melihat segala sesuatu dari kemungkinan terburuknya. Kenapa demikian? Karena saya lahir dari orang tua yang keduanya bergerak di bidang hukum. lalu apakah Ibu dikatakan tidak menjadi Ibu yang baik karena tidak selembut dan seramah Ibu lain?, tentu saja tidak. Karena memang Ibu seperti itulah yang saya butuhkan.  Apalagi terbiasa memilih hidup di rantau sejak kecil membuat saya tidak bisa terlalu berlemah lembut apalagi pribadi yang loyo. Jika ibu tidak tegas mendidik saya dengan caranya mungkin saya tidak akan berani melangkah dan mengambil banyak keputusan dalam idup.

Contoh lain, suami saya yang terbiasa hidup keramah tamahan dengan masyrakat. Karena latar belakang keluarganya yang kesehatan masyarakat. Sehingga terbiasa hidup bermasyarakat dan melayani kebutuhan masyarakat. Dan pasti melihat segala sesuatu dari sisi terbaiknya akan terjadi. Lalu apa Ibu yang mendidik anaknya seperti itu dikatakan gagal karena tidak sama dengan Ibu saya yang pola asuh dan kehiudpannya bertolak belakang?. Tentu tidak. Karena memang Ibu seperti itulah yang suami saya butuhkan, hingga saat ini ia bisa menjadi pembalance rumah tangga yang baik bagi kami di rumah. Hingga ialah yang menyambungkan saya bagaimana bisa bermanfaat dengan masyarakat. Karena memang Ibu seperti itulah yang suami saya butuhkan hingga membentuk kepribadian yang memang ia butuhkan dalam menjalani jalan hidupnya.

“Lalu apa karena kita tidak sama dengan Ibu lain kemudian kita menjadi Ibu yang gagal?”

Tentu saja tidak.

Walau masakan kita tidak seenak Ibu lain, tetaplah kita Ibu terbaik bagi anak kita. Karena memang Ibu seperti ini yang anak kita butuhkan. Ntah dari bagian mana dari cara masak kita yang nanti akan membentuk atau membantu jalan hidupnya.

Karena kitalah Ibu terbaik itu.

Walau rumah kita tidak sebesar rumah Ibu lain, tetaplah kita Ibu terbaik bagi anak kita. karena ntah dari bagian perjuangan ekonomi kita yang mana akan membantu nya kelak menyikapi hidup.

Karena kitalah ibu terbaik itu.

Walau kita tidak sekreatif ibu lain, tetaplah kita Ibu terbaik bagi anak kita. karena ntah dari kekakuan kita yang mana akan membentuk sikap yang ia butuhkan kelak ketika dewasa.

Dan masih banyak lagi, walau walau lainnya yang akan banyak sekali jika kita jabarkan satu persatu.

Karena kitalah ibu terbaik itu.

Jadi, jika ditanya siapakah ibu terbaik? Apakah saya ibu terbaik? Bagaimana saya bisa menjadi Ibu yang baik?

Maka jawabannya adalah “Ibu terbaik adalah Ibu bagi anaknya sendiri”

Karena setiap anak memiliki kebutuhan dan jalan hidup yang berbeda. Dan Ibu sudah Allah tetapkan melahirkan anak tersebut, maka Ibulah Ibu yang terbaik bagi sang anak, walau Ibu tersebut akan berbeda dari Ibu yang lain.


Karena kitalah Ibu terbaik itu.

Dan versi terbaik setiap Ibu itu berbeda. Karena fitrah dan latar belakangnya berbeda. Karena jalan hidup yang membentuk kepribadiannya juga berbeda. Karena fitrah baik yang sudah Allah titipkan pada diri setiap ibu itu berbeda.

Karena kitalah Ibu terbaik itu.

Semangat menjadi madrasatul ula menurut versi terbaik kita masing-masing.

0 Komentar