PROSES + MENCONTOHKAN VS HASIL + MENDIKTE


Menjadi Ibu dari seorang toddler memang penuh dengan tantangan. Terlebih di masa usia 2 tahunnya yang penuh dengan proses "penguasaan" sesuatu sambil bermain.

Dimulai dari ia menggunakan toilet layaknya orang dewasa dan lepas dari pospek/popok. Lanjut ke menyapihnya dari ASI kita sehingga ia bisa menjadi individu lain seutuhnya yang membuat kita menangis haru. Belum lagi ia yang sedang dalam masa ingin melakukan segala sesuatunya sendiri. Mau memasang baju sendiri, memilih sepatu sesuai keinginannya dan memasang sendiri dengan kebutuhan waktu yang pasti lebih "banyak" dibandingkan jika kita yang memasangkan untuknya.

Bahkan sudah 2 minggu terakhir ini saya dikagetkan dengan Aqila yang sudah mulai benar-benar inisiatif sendiri menyiapkan segala kebutuhan tidur malamnya, mulai dari mengambil selimut di lemari, menata bantal dan guling sesuai dengan posisi biasanya. Dan itu dia lakukan tepat di jadwal tidurnya, yaitu setelah magrib atau jam 19.30-20.00 waktu Malaysia.

Memang benar sejak umur 3 bulan ia sudah saya biasakan dengan sleep routunity, tapi biasanya saya yang memancing dia dulu agar inisitaif menata kasur bersama. Tapi kali ini dia benar-benar membuat saya dan suami terharu sekaligus sadar, bahwa bertumbuh bersama seorang toddler memang pembelajaran yang sangat luar biasa.


Sudah seminggu terakhir ini juga Aqila mulai dibiasakan menggunalan odol ketika sikat gigi (Selama ini dia sikat gigi tanpa odol karena belum bisa kumur-kumur). Setelah tau ilmu persikat gigian ini dari ahlinya (dokter anak) kami baru sadar, yah telat ya pake odolnya🤣 seharusnya sudah pakai odol ber-fluoride sejak gigi pertama tumbuh. Ya ini juga kesalahan saya yang telat belajar dan mencari tau lebih lanjut. Tapi tak apa, yang penting sekarang saya, suami serta Aqila sudah semangat merutinkan sikat gigi dengan odol sambil ngajarin dia cara berkumur dan cara sikat gigi yang benar.

Selama proses belajar sikat gigi inilah saya mulai menyadari penuh bahwa semua tahap bertumbuh bersama anak itu adalah tentang PROSES. Bukan tentang HASIL.

Seperti saat mengajarinya sikat gigi yang benar menggunakan odol. Yang menjadi fokus kami (saya dan suami) bukanlah bagaimana caranya supaya Aqila bisa CEPAT BISA gosok gigi yang benar dan selalu kumur-kumur dengan cara yang tepat dalam waktu singkat. Tapi, fokus kami disini adalah bagaimana caranya agar Aqila SUKA dan SENANG dengan proses sikat giginya, sehingga kesan yang tertanam di fikirannya adalah bahwa sikat gigi itu menyenangkan. Kumur-kumur itu seru.


Sama halnya ketika kami mulai mengajari Aqila menggunakan toilet duduk ketika pup. Alhamdulillah sudah sebulan sejak toilet seat itu kami beli Aqila selalu pup di toilet. Tanpa dipaksa, tanpa drama dan tanpa tipu-tipuan supaya ia mau. Dan saat pertama kali mengenalkan toilet seat itu, ekspektasi kami bukanlah bagaimana agar Aqila bisa CEPAT BISA pup di toilet. Kami ingin dia tau dan merasakan dulu bahwa pup di toilet itu menyenangkan lho. Tidak seram dan tidak perlu takut jatuh karena Bunda akan menemani. Membuat suasana di toilet menyenangkan saat di awal-awal ia mencoba pup di toilet. Mengajaknya membersihkan toilet seatnya bersama, dan akhirnya ia benar-benar suka dengan proses pup di toilet. Dan qadarullah sampai sekarang dia yng sudah inisiatif minta bantuan saya untuk mendudukkannya di toilet saat hendak pup.

Susah gak bund saat pertama nyuruh dia pup di toilet?

Alhamdulillah karena di awal kesannya sudah menyenangkan, akhirnya tidak ada kesusahan. Karena bagaimana susah itu  bisa terjadi?

Susah itu bisa terjadi saat ekspektasi kita sebagai orang tua terlalu tinggi dan tidak selaras dengan kemampuan anak dalam proses pembelajarannya akan sesuatu. Ketika adanya ketimpangan antara ekspektasi orang tua dengan proses sang anak, saat itulah "susah" itu akan terjadi.


Ini berlaku untuk semua proses pertumbuhan yang akan anak lewati bersama kita. Jika kita hanya fokus ke tujuan bagaimana anak CEPAT BISA. Maka kita sering kali abai dengan prosesnya. Walhasil apa? Ketika anak sudah tidak suka dengan prosesnya, karena tanpa sengaja kita marahi, bentak, paksa agar ia CEPAT BISA dengan dalih "demi kebaikannya sendiri supaya bisa mandiri" maka selanjutnya ia melakukan itu bukan karena kemauannya sendiri. Tapi karena kita orang tuanya yg menyuruh. Karena takut pada orang tuanya.


Ini juga berlaku ketika kita mengenalkan agama ke anak. Boomingnya tagline "Hafiz Cilik" membuat banyak sekali orang tua yang terobsesi ingin anaknya CEPAT BISA hafal Al-Quran. Semangat ini sangat bagus, dan keinginan orang tua ini sangat mulia. Tapi tetap jangan lupa "mengindahkan" prosesnya. Saya sering kali katakan ketika ada kulwhap online tentang menghafal Al-Quran, ajak anak agar "Jatuh Cinta" dulu dengan Al-Quran, jika dalam proses mencintai ini qadarullah ia bisa menghafal, maka itu adalah bonusnya. Jadi fokus kita bukan bagaimana agar anak CEPAT bisa menghafal Al-Quran. Tapi bagaimana agar anak suka dan cinta berinteraksi dengan Al-Quran. Jika ia sudah senang, maka hati dan kepalanya akan terbuka untuk merekam semua ayat-ayat suci itu dengan mudah.

Hal lain yang kami rasakan selama bertumbuh bersama toddler adalah betapa mudahnya memahamkan sesuatu padanya dengan CONTOH bukan arahan panjang kali lebar. Karena ia saat ini seperti mesin foto copy keluaran terbaru yang prosesornya sangat cepat menyalin sesuatu. Itulah yang kami rasakan.

Menyuruhnya untuk selalu mengucap terima kasih, meminta izin, ucap kata tolong atau kata maaf tidak seefektif ketika kami mencontohkannya langsung. Ketika kami tak sengaja menyenggolnya kami selalu ucapkan kata maaf. Ketika minta bantuannya selalu dengan kata tolong di awal dan terima kasih di akhir. Hasilnya apa? Tak perlu waktu seminggu Aqila sudah terbiasa meminta maaf jika tak sengaja melempar mainannya dan mengenai wajah saya, selalu mencium tangan saya dan minta izin ketika ia ingin keluar bersama abinya. Terlihat lucu saat mulut kecil yang sedang belajar bicara itu meminta izin dan kata maaf yang tulus dari hatinya karena ia tau wajah bundanya sakit terkena mainannya. Dari sini saya sadar :

Oh ternyata memang harus kami sebagai orang tua dulu yang berubah menjadi baik jika ingin anak kami juga berperilku baik. Karena 24 jam bersama dia akan selalu mengcopy paste semua sifat, perilaku dan kebiasaan kita di rumah.


Karena bagaimana mungkin kita mengajari anak kita berkata lembut sedangkan kita selalu berkata kasar dengan pasangan. Bagaimana bisa kita ingin anak kita belajar sabar ketika kita selalu memburunya agar cepat bisa dan selesai dengan proses penguasaanya  belajar akan sesuatu. Bagaimana mungkin kita mengajari anak kita agar tidak berteriak ketika kita menyuruhnya sambil berteriak.?

Itu juga yang saya rasakan bagaimana sekarang di usianya 25 bulan sudah bisa self service untuk tidur malamnya sendiri. Bermula dengan ia merapikan kasur sebelum tidur. Sejak usia 3 bulan saya mengajaknya untuk merutinkan aktifitas tidur yang sama setiap harinya (ambil selimut di lemari, bagi-bagi bantal sesuai posisinya, letak guling di bagian kaki, ambil air minum aqila dan air minum saya serta suami dan letak di meja samping kasur, wudhu, matikan lampu, deep talk antra saya dan Aqila sebelum meng-ASI-hi, curhat/cerita tentang bagaimana harinya saat itu, ditutup dengan saya selalu minta maaf jika saya ada salah dan mengatakan saya juga selalu memaafkannya lalu lanjut baca doa dan menyusui sambil tidur bersama). Semua itu saya lakukan karena sejak awal saya sudah mencari tau fitrah bayinya apa, kebutuhan tidur secara ilmu medisnya bagaimana, kebiasaan tidur yang baik bagi psikologisnya seperti apa. Dan itu saya lakukan bukan agar kelak ia bisa membantu saya merapikan tempat tidur, apalagi agar ia bisa mandiri. Sama sekali tidak.


Itu saya lakukan karena saya mau memenuhi kebutuhan jam tidurnya secara utuh dan menjaga psikologisnya tentang proses untuk tidur agar tetap terjaga baik dan indah. Tapi hasilnya sungguh jauh melebihi ekspektasi saya.

Ia sekarang yang sudah tau kapan harus tidur, kapan harus berhenti bermain, kapan harus berwudhu dan ikut shalat magrib  bersama kami lalu pamit ke abinya untuk ia tidur malam bersama saya membuat kami terharu. Itu semualah yang saya CONTOHKAN selama ini ke dia. Dan Aqila tanpa disuruh ternyata mengCopy paste semua yang saya contohkan itu tanpa ada yang ter-skip sama sekali. Itu yang membuat kami terkagum-kagum dengan kecepatan daya tangkap yang sudah Allah selipkan pada setiap anak. Tinggal orang tuanya mau menggunakanya dengan sebaik mungkin atau tidak.

Yuk kita bertumbuh dan berproses bersama anak dengan sama-sama bahagia, karena kitalah penentu apakah anak akan mempunyai innerchild yang akan menjadi PR nya ketika dewasa atau tidak....

25 Komentar

  1. Masyaallah pinter banget aqila. Setuju banget anak emang kaya mesin fotocopy ya cepet banget nangkap apa yang kita contoh bakal langsung di tiru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus siap selalu bersikap baik y teh kitaaaa :"

      Hapus
  2. Syahdian Sofwan7 Juli 2020 03.26

    Benar banget, imprinting dan golden age itu berperan penting, maka memang, harus selalu didampingi baiknya, agar memori yang tersimpan adalah memori2 baik dan pelajaran2 baik. Jazakillah sudah sharing prakteknya ya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samsama mbaa..semoga anak2 kita punya memori indah masa kecil ya mba :"

      Hapus
  3. MasyaAllah tabarakallah cerdas ya Aqila.. Sehat dan bahagia selalu ya nak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin y rabb amiiin..makasih doanya mbakuu :)

      Hapus
  4. Maa syaa Allah tabarakallahu kak..
    Semangat bertumbuh bersama keluarga

    Selalu kepo klo foto² aka bisa bertiga gtuu candid dll

    Bawa fotografer kah kak? Heeheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pernah share di feed instagram mbaaa tips fotonya..
      Ada juga di artikel saya sebelumnya

      https://www.wafiazkia.com/2020/04/tips-memotret-bayianak.html

      Singkatnya cuma pake tripod dan timer mbaaa...hehe

      Hapus
  5. MasyaAllah... Kunci parenting yang terpenting adalah bagaimana orang tua bisa memberikan contoh dan teladan bagi anak-anaknya. Terimakasih atas sharingnya mbaa..

    BalasHapus
  6. Masya Allah
    Yg sholehah ya dd Aqila

    BalasHapus
  7. Jadi ilmu buat saya yang masih single. Terima kasih sharingnya mba

    BalasHapus
  8. Haru ya mba klo bahas anak, emg betul bgt anak itu cerminan orangtuanya, dan sebaik2nya pengajaran adalah memberi teladan 💜

    BalasHapus
  9. Iya mba. Ku Kira Kita sebagai otangtua setelah punya anak ya stuck Aja . Ternyata mesti banyak belajar Hal2 lain

    BalasHapus
  10. Sehat-sehat Aqila.. .jadi anak salihah ya. Anak kuat cerdas dan peduli umat. Btw, nice sharing

    BalasHapus
  11. Masyaa Allah, barakallah ya mbaa dan keluarga. Penting banget memang ya menumbuhkan mindset dan kebiasaan dibanding sekedar ngehar hasil. Semoga nantinya bisa mengamalkan juga. Thanks for sharing

    BalasHapus
  12. MasyaaAllah, jazaakillahu khairan sudah 'mencharge' semangat pembelajar :)

    BalasHapus
  13. MasyaAllah.. thanks for sharing ❤️

    BalasHapus